Pak Sarmadji Pengumpul Partikelir

Details

Pak Sarmadji adalah seorang eksil politik yang telah menetap di Belanda sejak pertengahan 70an. Ketika politik Indonesia bergejolak di 1965, ia masih menjadi mahasiswa di Beijing. Setelah pencabutan paspor dan kewarganegaraannya, oleh rezim Orde Baru, ia terpaksa untuk tinggal di Beijing. Percakapan ini merekam sebagian cerita hidupnya-perasaan terhadap Indonesia, yang berujung didirikannya Perhimpunan Dokumentasi Indonesia. Percakapan ini berada di seputar penggunaan arsip sebagai sebuah cara untuk mengatasi kesedihan and melankoli lainnya. Terlebih dari semua hal tersebut, ia adalah sebuah seni bertahan dan tetap hidup di tengah kesulitan. Dalam rekaman ini, Pak Sarmadji bercakap-cakap dengan Brigitta Isabella, Fiky Daulay, Nuraini Juliastuti, Syafiatudina dan Wok The Rock. Rekaman ini diedit oleh Syafiatudina. Unduh file audio melalui tautan ini.

Mr Sarmadji is an Indonesian political exile who has been living in the Netherlands since mid 1970s. When the Indonesian politics was in turmoil in 1965, he was a student in Beijing. To follow the confiscation of his passport, and his Indonesian nationality, by the Indonesian New Order regime, he was forced to stay in Beijing. The conversation chronicles parts of his life stories–the feelings towards Indonesia, which lead to the establishment of Perhimpunan Dokumentasi Indonesia. It is about managing archives as a way to overcome sadness and other melancholies. Above all it is about the art of perseverance and how to keep on living amidst difficulties. In this audio, Mr Sarmadji was in conversation with Brigitta Isabella, Fiky Daulay, Nuraini Juliastuti, Syafiatudina and Wok The Rock. This recording was edited by Syafiatudina. Download the audio file via this link.