Di Luar Dalam Teater Kolonial: Sebuah Audio Guide

Details

Tiga bagian audio guide ini adalah sebuah intervensi site-specific yang diwujudkan oleh Kunci Cultural Studies Center (Yogyakarta, Indonesia) pada pameran permanen Netherlands East Indies di Tropenmuseum. Guide ini diproduksi dalam kerangka 6 minggu riset residensi di Tropenmuseum, sebuah proyek yang difasilitasi oleh wadah independen Heterotropics dan Research Center for Material Culture. Audio guide ini dapat didengar online di radio.kunci.or.id and dapat diakses oleh siapa saja, baik di dalam atau di luar museum.

Alur cerita di dalam panduan ini berfungsi sebagai sebuah pembacaan alternatif atas obyek yang dipamerkan di pameran permanen. Diresmikan pada 2003, pameran tersebut dibentuk sebagai sebuah teater kolonial yang dibuat untuk menggambarkan penjajahan berabad-abad atas Indonesia hari ini oleh Belanda. Melalui manekin seukuran manusia yang hyper realistis dan artefak yang beragam, teater kolonial bertujuan untuk menyediakan pemandangan naratif atas kehidupan sehari-hari di Hindia Belanda, menyusuri berbagai wilayah makro seperti ‘Pendidikan’, ‘Seni’, ‘Di Rumah’, ‘Perdagangan’, ‘Penemuan’, dan ‘Pertunjukan’. Isi audio guide ini secara khusus dikembangkan sebagai sebuah percobaan kritis untuk menghadapi celah-celah yang tak terjelaskan mengendap di antara materialitas tatapan kolonial yang spektakuler. Tujuannya adalah untuk mengguncang sintaks visual dan retorika museum melalui penggunaan suara dan kekuatannya yang jelas, hadir di mana-mana dan ekspresif.

Cerita yang akan anda dengar di dalam audio guide ini disuarakan oleh Sulastri, karakter fiksional utama di Buiten Het Gareel, sebuah novel yang ditulis oleh seorang guru Jawa feminis dan aktivis anti-kolonial Suwarsih Djojopuspito dan diterbitkan dalam bahasa Belanda pada 1940. Novel-yang kemudian baru diterbitkan pada 1975 dengan judul Manusia Bebas-kronik tentang hidup seorang guru perempuan dan suaminya, yang mengoranisir sekolah ‘liar’ (ilegal) di masa akhir kolonial di Jawa Barat. Narasinya bergerak dari konflik personal ke konflik-konflik politis-kesulitan finansial dalam menjalankan sekolah, tantangan dalam berurusan dengan dinamika internal sekolah dan sistem kolonial yang menindas. Figur Sulastri di museum direpresentasikan oleh sebuah manekin yang menggambarkan seorang guru Indonesia pada bagian “Pendidikan di Hindia Belanda”. Manekin ini pada awalnya dibuat untuk paviliun Hindia Belanda di Paris World Exhibition 1931 and menjadi koleksi museum pada 1934. Pada masanya dekorasi berwujud manusia ini memainkan peran-peran yang berbeda dan diasumsikan dengan bermacam identitas, mendukung testimoni bagi bermacam praktek representasional atas sejarah kolonial Belanda di museum.

Di dalam audio guide ini, kontradiksi kehadiran fiktif Sulastri ditekankan dengan menggunakan tubuh dan suaranya untuk menyusuri lorong waktu sejarah-sebagai bukti, sebagai saksi, sebagai pengamat, sebagai yang diamati, sebagai korban sekaligus sebagai penyintas atas politik representasi kolonial dan pasca kolonial. Di dalam guide kami suara Sulastri menjalin naratif yang beragam yang membawa pengunjung ke dalam dan ke luar museum, memperbesar apa yang tersembunyi di balik yang tampak. Suaranya dihadirkan sebagai sebuah antitesis atas pandangan museum dan sebagai sebuah medium untuk mengklaim kembali sejarah kolonial. Rute-rute di guide ini adalah jalur-jalur beragam yang kami pilih untuk memperbesar titik pandang pengetahuan kami dan kekurangan kami atas sejarah tersebut sekaligus memposisikan kembali diri kami terhadap bentukan pengetahuan kolonial.

Credits:

Suara Sulastri: Nuraini Juliastuti

Scriptwriter: Brigitta Isabella, Nuraini Juliastuti, Syafiatudina

Terjemahan Bahasa Inggris: Ferdiansyah Thajib, Fiky Daulay

Teknisi rekaman: Fiky Daulay, Syafiatudina

Audio editor: Syafiatudina, Fiky Daulay

Unduh rekaman audio melalui tautan ini